Presuppositions (4)



Mind - and - body  Inevitably & Inescapably Affect Each Other

Meskipun kita mengatakan “pikiran” dan “tubuh”seolah-olah mereka beroperasi secara independen masing-masing.  Sebenarnya mereka tidak bisa beroperasi semacam itu. Dalam General Semantik (makna umum) kami menggambarkan hal semacam ini adalah memisahkan fenomena yang tak bisa terpisahkan sebagai  “false-to fact”  atau “elementalism”.

Korzybski (1941/1994) berpendapat keras bahwa elementalism timbul dari pikiran  primitif  dan  polabahasa dan kegiatan (work) yang merugikan kita. Ketika kita menempatkan tanda hubung antara istilah-istilah  tadi kita dapat membuat pemahaman yang lebih holistik dan sistemik

Tidak sulit bagi kita untuk memahami bahwa penyakit fisik dan rasa sakit dapat memengaruhi suasana hati. Sementara masalah kecil seperti flu atau gastroenteritis akan dapat membuat pasien merasa sedih atau menderita iritasi selama beberapa waktu, pasien yang menderita penyakit kronis, terutama yang membawa rasa sakit, akan dapat mengembangkan pikiran negatif dan rasa tidak berdaya dan akhirnya menjadi sakit emosional.

NLP Presuppositions (3)



3. Meaning Operates Context-dependently

Prespositions ini berkaitan dengan presupposition yang pertama. Presupposition ini menyatakan bahwa semua kata membutuhkan beberapa konteks makna. Dalam diri mereka sendiri, kata tidak mengandung makna. Sebuah pernyataan atau tindakan adalah dalam satu kesatuan konteks, dan bisa jadi memiliki perbedaan makna pada konteks yang lain. Ketika Aku memberitahu ayahku, “Aku mencintaimu” makna yang berbeda dari memberitahu istri, “aku mencintaimu”. Konteks pernyataan menentukan makna atau frame makna dari pernyataan tersebut.


O’Connor dan Seymour (1990), menulis,
“Peristiwa yang terjadi tidak penting kecuali sampai kita memberi mereka makna, menghubungkannya dengan masa depan kita, dan mengevaluasi konsekuensi yang mungkin. Kita belajar makna sesuatu hal dari budaya kita dan pendidikan individual kita”.
Mengutip pepatah Yahudi, “Sebagian orang menilai (konstruksi makna, menghitung, memper-hitungkan) dalam jiwanya, begitu juga dengan dia”.


“There is no content in content worth knowing.”
Tad James




“Tidak ada konten dalam konten yang bernilai informasi.”
Tad James

 

Karena makna beroperasi dengan cara yang tergantung pada konteks, konteks (frame) terutama akan me-ngontrol  meaning - the context kita, mengikuti seperti yang diberikan atau Frame yang kita atributkan kepadanya. Tad James menyatakan, “Tidak ada konten dalam konten yang bernilai informasi”.

NLP Presuppositions (2)





2. People Responds According to Thier "Maps"

Dengan adanya perbedaan Map (peeta), maka “Map” kita sebagai persepsi kita tentang wilayah akan me-nentukan atau mengendalikan baik persepsi dan tanggapan kita. Kita menanggapi dunia, bukan karena dunia ada tapi menurut “peta” kita sendiri . Ini menggaris bawahi sangat pentingnya membahas “Map” kemanusia kita di dunia ini.


“Map” peta neuro-linguistik ini terdiri dari keyakinan, nilai-nilai, sikap, bahasa, kenangan, dan filter psikologis lainnya. Dalam kesadaran kita, kita mengalami “peta/ maps” internal ini hanya sebagai  “pikiran/ thoughts”  internal representational "maps" kita. Namun “kita seperti apa yang kita pikirkan, seperti itulah kita”. (“as we so think-so we are”). Dalam hal  internal representational “maps” kita akan berinteraksi dengan fisiologi kita untuk menghasilkan “state” kita. Maka state kita akan mendorong perilaku kita. Ini berarti bahwa persepsi kita akan beroperasi sebagai proyeksi kita. Itu semua menentukan tindakan kita.