Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Puisi Malam Untuk Senja


Yang mengharapkan tulisan di lembar ini adalah puisi akan kecewa, karena aku bukan sedang menulis puisi yang indah yang akan menggoda rasa rindumu akan kesempurnaan alam timbul. Aku juga bukan sedang membuatmu terpana akan harapan-harapan yang aku beri seakan hebat.


Aku sedang menulis kata-kata gelap

Perjalanan dan Pertemanan

Sudah lama kami saling kenal, semenjak dunia komunikasi masih memerlukan cost yang sangat mahal untuk menggunakannya sampai sekarang media komunikasi sosial “gratis” dimana-mana meskipun costnya adalah iklan produk sponsor pun akan muncul di mana-mana juga.

Momen untuk bertemu secara virtual adalah sangat mudah dan murah, namun pertemuan secara langsung bertatap mata dan menjabat tangan dan berpelukan hangat karena rindu persahabatan memerlukan waktu dan pengorbanan yang sangat besar, namun semua akan terbayarkan karena cinta persahabatan bicara melampui dunia yang ada.

Narasi Benakku Yang Belum Berwarna

Bagi sebagian orang kehidupan dunia ini membosankan, terlalu sempit, terlalu kaku, terlalu banyak aturan yang berlaku, terlalu banyak basa-basi yang tak perlu. Bagiku kehidupan dunia ini selalu berubah-ubah. Kadang aku melihat senyum dari wajah seseorang namun esoknya aku melihat yang berbeda, wajahnya jadi kaku tak hangat lagi. Kadang aku melihat esok hari menyenangkan karena entah kenapa namu kadang juga aku merasa esok hari hanya pantas untuk diisi dengan tidur malas di atas kasur.

Aku ingin menulis jujur dalam lembar ini, terlepas dari paradigma dan nilai-nilai yang aku pegang, aku menulis lepas seperti pengamat yang sedang memandang benda yang tak bernyawa sama sekali, seperti programer yang sedang memandang sistem yang sedang dia benahi. 

Ini selalu terjadi, meskipun aku merasa banyak yang menutup-nutupi seolah-olah kehidupannya begitu bahagia tetap saja aku curiga dia tidak terbuka dalam hal ini. Tetap saja aku bisa melihat wajahnya tidak seperti yang dia bilang bahwa semuanya baik-baik saja, memaksa baik ketika tak baik bagiku itu merupakan hal yang merusak, merupakan hal yang tak pantas bagi kita manusia. Bisakah kita merasa baik secara alami? Bisakah bersikap alami juga ketika semua sedang tidak baik? Bisakah kita tidak menutup-nutupinya? Mungkin semua akan menolak untuk melakukan itu. Akan menolak karena takut nama baik yang telah dia bangun hilang lenyap karena penilaian orang lain. Menolak karena dia tak mau melihat realita, hanya mau melihat nilai-nilai yang dia pegang akan tetap abadi. 

Aku merasa bingung dalam hal ini, merasa ada yang ganjil dengan sikap semacam itu. Ada benak yang tidak bisa menerima. Ada benak yang menganggap hal semacam itu akan jadi dusta dengan topeng putih yang cantik dan anggun dalam pandangan.

Aku jadi malas mendengar kata-kata manis manusia, aku jadi malas melihat senyum hangat yang mengatakan seolah-olah tak terjadi apa-apa. Aku jadi malas menanggapi ajakan penuh semangat bahwa kita akan menang. Aku malah ingin melihat lebih dalam ke dalam mimpi itu semua, akankah mimpi-mimpi semacam itu akan jadi nyata? Mereka  menyebutnya bukan mimpi, mereka menyebutnya janji. Namun tetap saja ketika masuk ke benak kita itu akan jadi mimpi yang kita bangun dengan persepsi naluri kita. 

"Janji" aku bisa memahami kata itu, aku bisa memahami maknanya. Namun aku ingin setiap kata jangan kita paksa mengeluarkan makna yang kita inginkan. Jangan kita paksa semua seakan bai-baik saja, jangan kita paksa semua warna harus berubah menjadi putih. Jangan kita paksa itu, sungguh melelahkan memaksa hal-hal semacam itu. 

Sementara ini aku belum bisa menutup narasi ini, belum bisa menyumpulkannya. Narasi ini kubuka dalam benakku yang belum menemuka warna yang pantas untuk bisa menjadi lukisan yang indah bagi semua. 


My Own Wonderland (Prolog)


Seperti yang sudah sering sebelumnya, aku berjalan di padang sejuta bunga yang luas itu. Sambil sesekali membungkuk menyentuh kelopak Geranium biru. Akumenggenggam sesuatu, apakah itu kertas? Rasanya seperti kertas, atau mungkin daun, karena terasa lebih dingin untuk permukaan kertas manapun yang kukenal. Dan juga sesuatu seperti pena, tapi aku tak yakin itu pena. Aku hanya yakin bahwa aku bersiap mencatat syair apapun yang akan kudengar, nada apapun yang akan ditangkap telingaku. Memangnya siapa yang bakal menyanyi? Aku tidak begitu tau tempat ini, hanya saja belakangan tempat ini jadi semakin familier karena dia terus saja membawaku kesini. Namun akhirnya akan selalu sama, aku akan sampai di gerbang yang dibentuk mawar hutan yang merangkai dirinya antara dua pohon besar, suara seseorang menyanyikan lagu yang indah, seperti lagu ‘selamat datang di rumah’, tersihir dan aku melupakan kertas dan penaku. Dan selanjutnya seseorang dari seberang gerbang menyibak juntaian mawar , dan itu dia, tersenyum, senyum yang membuatku bingung dan bertanya ‘apa maksudnya?’ dan suaranya yang merdu berbisik ‘selamat datang Emily-ku’. Tunggu, kali ini jangan berakhir dulu, aku ingin penjelasan kenapa namaku jadi Emily-ku? Siapa kau? Apa nama tempat aneh ini? Namun percuma, seperti sebelumnya, aku mengantuk, dia tetap tersenyum. Dan detik selanjutnya aku tidak melihat apa-apa, mungkin aku sudah tertidur, dan saat membuka mata, aku di kamarku lagi. Mengumpat, aku melempar bantal ke dinding. Aku hampir gila. Apa yang dia ingingkan? Membunuhku?


                                                                                                       Karya : Naurah Nazifa @naurah_nazifa

PACARAN ITU MENYAKITKAN (Part : 1)


       
Seorang perempuan berumur 17 tahun yang bernama putri,  dan sampai saat ini putri belum pernah merasakan yang namanya “Cinta”. Dan ia Pun bertanya kepada ibunya tentang cinta, dan ibunya pun menjelaskan semuanya kepada putri  tentang cinta,hingga akhirnya putri mengerti tentang cinta. Namun ibu  berpesan  kalau belum waktunya, kamu tidak boleh pacaran dulu, karena yang pertama islam tidak pernah mengajarkan tentang pacaran, dan cinta itu dapat merugikan kamu, dan putri bertanya, kenapa bisa merugikan aku bu..?  jawab ibunya, karena cinta itu hanya manis diawal saja, tetapi sangat pahit diakhirnya, ya bisa dikatakan seperti penyesalan itu datang di akhir, lalu dengan rasa takutnya, putri menjawab, wahh ngeri juga ya bu.?? Putri pun kembali bertanya , Jadi kapan dong aku boleh berpacaran..?  , ya ketika ada seseorang pria yang memang ingin serius menikahi kamu,ibunya menjawab.

Sebenarnya putri menyukai seseorang cowok, dan cowok itu bernama reza, seorang yang cowok, yang ganteng dan pintar. Mereka satu sekolah, namun beda kelas ,putri kelas XI-IA-2 dan reza kelas XII-IS-1  dan merekka berdua sering berjumpa di pustaka, karena mereka suka membaca buku. Ketika di pustaka, reza juga sering melihat putri ketika sedang membaca buku, dan mereka juga pernah saling melihat ketika sedang membaca buku, dan karena malu mereka berdua tersenyum., Dan mulai saat itulah mereka yakin kalau mereka saling menyukai.

Dan setiap malam mereka juga sering mengobrol lewat hp dan jaring sosial,  dan pada malam itu juga, tiba-tiba reza mengungkapkan rasa cinta kepada putri dan ingin menjadi pacar putri, dan putri pun merasa senang dan malu mendengarkanya, putri pun langsung menjawab ‘aku juga mau jadi pacar kamu”  tapi dengan syaratnya jangan sampai tahu keluarga putri ya reza? , reza pun menjawab iya, aku akan jaga rahasia ini.

Dan disekolah pun mereka juga sudah tidak malu lagi untuk mengobrol, dan bahkan reza juga kadang-kadang memberi bunga kepada putri, dan tentunya mereka sangat bahagia, dan terkadang reza juga suka  menggombali putri, agar putri senang. Dan bahka reza juga mengatakan ingin menikahi putri. Dan mereka juga berjanji untuk saling setia dan tidak akan pernah bohong.

Ketika bel pulang berbunyi, reza dan putri pulang bersama, dengan motor masing-masing, dan putri tidak mau goncengan dengan reza, karena ia takut ketahuan ibunya. Dan  ketika diperjalanan pulang  tiba-tiba ada sebuah mobil yang  remnyaa blong dan melaju kencang dari depan, dan waktu itu putri tidak melihat mobil tersebut, karena reza dan putri mengobrol sambil berjalan.  Dan tiba-tiba saja mobil tersebut menabrak motor milik putri, dan putri pun  terseret dengan motornya di aspal dan kakinya ditimpa oleh motor, sedangkan reza waktu itu dapat mengelak dari mobil tersebut.

Akhirnya putri pun dirawat dirumah sakit. Dan dokter bilang putri harus dirawat dirumah sakit, sampai badan dan  kakinya benar-benar sembuh. Dan kedua orang tua putri sangat sedih melihat putri menderita seperti ini. Dan setiap hari  reza pun sering datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan putri dengan membawa buah-buah dan makanan kesukaan putri. Namun ketika sudah hampir dua minggu reza sudah tidak pernah lagi datang untuk menjenguk putri,  dan  bahkan ketika di telfon reza tidak mau mengangkatnya. tapi kadang-kadang sms putri dibalas oleh reza, itupun hanya menjawab kabarnya saja.

Dan ketika sahabat putri datang, putri menanyakan tentang reza, dan sahabatnya berkata, aku gak tauh put, tapi aku pernah lho liat reza dekat ma kakak kelas, tapi aku bukan nuduh reza sekingkuh yha.. lalu putri pun menjawab, gak mungkin ah, karena dia sudah janji untuk setia sama aku. (putri dan sahabatnya tersenyum senang)

Dan setelah 3 minggu kemudian putri sudah boleh pulang dari rumah sakit, ayah dan ibu putri,langsung  mengajak putri untuk jalan-jalan ke laut agar putri tidak stress, Karena sudah hampir 3 minggu putri hanya tidur dirumah sakit. Dan ketika di laut  putri melihat seorang pria yang mirip dengan reza, dan sedang bersenang2 dengan seorang wanita yang juga ia kenal. Putri pun memcoba untuk mendekati mereka, dan ternyata benar, mereka itu adalah reza dan kakak letting putri.  Dengan perasaan sedih putri pun menampar reza karena dia selingkuh dibelakang putri. Dan putri pun mengatakan “ mulai hari ini kita putus” dan putri pun langsung lari dan reza pun tidak bisa mengejar karena ada orang tua putri

Dan dengan perasaan sedih putri mengajak ayah dan ibunya untuk pulang. Dan ketika di mobil, ibunya bertanya kepada putri “kenapa kamu menangis..?” awalnya putri tidak mau menjawab, namun karena ibu terus memaksa, akhirnya putri menceritakan yang sebenarnya, “bahwa pacarnya selingkuh dengan wanita lain” dan dengan perassaan kecewa ibunya menjawab : kan sudah ibu bilang sama kamu bahwa, berpacaran di waktu yang belum tepat itu hanya manis di awal namun sangat pahit di akhirnya, dan kamu baru merasakan pahitnya sekarang kan, dan ibu yakin sekarang kamu pasti menyesal, dan perlu kamu ketahui juga putri, bahwa, kalau berpacaran diwaktu yang belum tepat, itu bisa mendekatkan kamu kepada zina,dan bahkan banyak cowok berpacaran, hanya untuk mengetes, berapa banyak wanita yang suka sama cowok tersebut

Dan kalau ada cowok yang benar-benar setia, dia pasti tidak akan mau memacari kamu, tetapi dia memang betul-betul ingin menikahi kamu, ya contohnya seperti ayah kamu ini, (ayah,ibu dan putrid tertawa dan senang) dan dengan perasaaan menyesal putri berkata, pacaran itu memang menyakitkan dan  putri berjanji untuk mendengar semua nasehat ibu. Agar putri nanti menikah dengan orang-orang yang betul-betul mencintai putri.
                                                                                       KARYA :

                                                                                                                              RIDHO RINALDI
                                                                                                                    @R1dho_R1