Showing posts with label motivation. Show all posts
Showing posts with label motivation. Show all posts

Outcome Frame




Apa yang membedakan NLP dengan pendekatan lain?

Dalam NLP orientasinya adalah menemukan dengan benar apa yang kita inginkan, mencari sumberdaya yang dibutuhkan dan bagaimana cara kita menggunakan semua sumberdaya ini untuk menggapai apa yang ingin kita miliki. Semuanya ini kita sebut dalam NLP sebagai “Outcome Frame”

Outcome Frame kalau kita terjemahkan dengan bebas bisa digambarkan, Outcome adalah hasil yang kita inginkan dan Frame adalah bingkau atau kerangka. Jika digabungkan akan jadi “cara berpikir dalam bingkai meraih hasil yang diinginkan.”

Dalam NLP Outcome frame adalah hal utama yang menjadi langkah awal dari semua pendekatan NLP. Outcome frame adalah satu set pertanyaan yang mengorientasikan pikiran seseorang sedimikian rupa sehingga memaksimalkan mendapatkan apa yang diinginkan dan merasa gembira setelah mendapatkannya.

Presuppositions (6)



We Respect Each Person's Model of the World

Presupposisi ini mengikuti presupposisi yang sebelumnya (People respond according to their internal maps) atau setiap orang memiliki model dunia mereka sendiri. Jika Anda ingin berkomunikasi dengan orang lain, dan terutama jika Anda ingin mereka melakukan sesuatu atau mengubah pikiran mereka tentang sesuatu, Anda harus mulai dari tempat mereka berada  (model dunia mereka).

Menyadari perbedaan antara peta dan wilayah, kita juga menyadari bahwa orang-orang akan memetakan realitasnya dalam cara yang berbeda. Hal ini akan memungkinkan kita untuk menghormati hak dan tanggung jawab mereka untuk menangani dunianya sendiri. 

Ketika kita menghormati model dari dunia mereka, kita akan menghormati mereka sebagai pribadi yang memungkinkan mereka untuk mempercayai bantuan apapun yang akan kita dapat tawarkan kepada mereka nanti.

Presuppositions (5)




Individual Skills Function by Developing & Sequencing Rep Systems.

(Skill Individu berfungsi dengan pengembangan dan urutan dari Rep System)


The rep system has two key components in the NLP model: submodalities and strategies.




Rep sistem memiliki dua komponen kunci dalam model NLP: submodalities
dan strategi.

A. Representasi Sistem (Modalitas)

Apa yang muncul dalam benak Anda jika saya minta untuk memikirkan secangkir coklat susu kental hangat?

  • Gambaran sebuah cangkir berisi cairan berwarna coklat kental disertai asa lembut yang mengepul ke atas kah?
  • Suara yang muncul ketika Anda sedang menyeruput secangkir coklat susu dengan penuh kenikmatan kah?
  • Lidah yang bergejolak merasakan manis dan lembutnya kah?
  • Harumnya wangi coklat yang bercampur susu?
  • Rasa hangat yang mengalir dari lidah menuju kerongkongan dan berakhir di perut kah?
Mampukah Anda mengalami semuanya? Apakah semuanya sama bagi Anda atau adakah salah satu yang dominan?

Selamat datang di pintu persepsi! Selayaknya sebuah pintu adalah tempat pertemuan dunia luar dan dalam, begitu pulalah yang terjadi dengan pintu persepsi. Untuk bisa memiliki persepsi kita memerlukan informasi yang masuk ke dalam pikiran untuk diolah. Bedanya dengan pintu kayu yang ada di rumah, pintu persepsi senantiasa siap dan terbuka kapan pun dibutuhkan. Ia disediakan oleh Tuhan dalam bentuk reseptor di seluruh tubuh dan pintu tempat kita memasukkan informasi. Pintu tersebut adalah kelima panca indera kita yang menerima informasi dengan cara melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan mengecap. Dalam NLP, kelima cara ini disebut sebagai representational system atau biasa disingkat dengan rep system. Disebut demikian karena memang fungsinya adalah merepresentasikan alias menyajikan ulang informasi (re-present) yang ada di luar diri kita ke dalam sinyal-sinyal yang bisa kita pahami.

NLP Presuppositions (1)


  1. The “map” is not the “territory” or “The menu is not the meal”

Sama seperti “peta” tidak benar-benar seperti “wilayah” yang diwakilinya, kata yang kita gunakan tidak terdiri atas peristiwa atau item-item yang kata itu wakili. “Territory”  adalah sebagai realitas di luar sana, di luar kulit kita, terdiri dari miliaran rangsangan per detik, dunia yang selalu berubah dari tarian elektron, perubahan energi.

“Map” menggambarkan apa yang ada dalam tubuh kita (penerimaan neurologis orang-orang atas manifestasi energi) dan apa yang ada di kepala kita (“mental”, pemahaman konseptual tentang wilayah). Jadi kita memiliki dua tingkat fenomena realitas di sini eksternal dan internal, realitas yang subjektif.

Menghadirkan Kata


Menulis apa yang kita pikirkan ibarat mengukir pahatan patung, sulit dan butuh fokus yang sangat lama agar terwujud lah patung yang nyata seperti apa yang dibayangkan oleh sang pemahatnya. Jika kita tak punya kemauan yang kuat untuk tetap menjaga fokus yang hadir bukan patung yang indah  yang akan kita lihat tapi hanya patung yang acak yang tak berbentuk.

Kita tidak akan bisa menulis apa yang ada dalam benak kita jika pikiran kita kusut dan berkabut. Kita akan sulit mengukir pikiran kita di kertas ini ketika kondisi pikiran sedang tidak dalam kondisi tanang. Kekusutan hanya akan menimbulkan ketakutan, ketakutan akan menimbulkan kegegelapan dalam visi kita.

Kata-kata hadir dan lahir dari ungkapan jiwa dan perasaan manusia yang ingin untuk mengungkapkan apa yang dia pikirkan kepada yang lain. Jika kata-kata tak bisa lagi dia ungkapkan yang akan hadir adalah emosi yang tak mampu ia tahan lagi. Ketika kata-kata lancar keluar, emosi pun akan lebur dalam bahasa.

Kekalutan dan ketenangan merupakan suasana jiwa manusia sehari-hari. Ketika semuanya tertata dengan rapi sehingga ketenangan dan kesenangan akan lahir dengan sendirinya. Dan ketika semuanya kacau sehingga tak ada kejelasan maka pasti akan melahirkan kekalutan dan kepanikan dalam diri kita.

Menyederhanakan diri, menyederhanakan pemikiran, menyederhanakan pandangan, akan memudahkan diri ini untuk merapikan apa yang ada dalam benak perasaan nya. Akan mudahlah kita memandang dalam ke dalam pikiran dan perasaan kita. Akan mudahlah kita memakainya untuk kebaikan dan kebutuhan kita.

Menghadirkan kata dalam dunia ini adalah sama seperti menghadirkan masa depan dalam kehidupan ini.






NLP PRESUPPOSITIONS (1)

Untuk memahami makna yang tepat dari suatu hal, kita harus tetap dalam konteks ketika hal itu diutarakan. NLP konsen untuk memahamkan kita supaya peka dengan konteks ketika sedang mencoba memahami sebuah makna. Sehingga kita tidak mengalami kesalahan atau ketidak tepatan dalam memahami makna.

NLP juga bertujuan untuk menemuka metode yang tepat bagi state kita sehingga kita bisa keluar dari ruang pemahaman yang kecil, terbatas dan tidak akurat dari sebuah perspektif yang mengunci kita dalam kebiasaan bermasalah.

What Is Neuro-Lingustic Programming?

Neuro-Lingustic Programming (NLP) adalah sebuah pendekatan komunikasi, pengembangan pribadi, dan psikotrapis yang diciptakan oleh Richar Bandler dan John Grinder di California pada tahun 1970-an. Penemunya mengklaim adanya hubungan antara proses neurologi, linguistic dan pola perilaku yang dipelajari melalui pengalaman (programming) dan bahwa hal tersebut dapat diubah untuk mencapai tujuan tertentu dalam kehidupan. Bandler dan Grinder mengklaim bahwa ketrampilan seseorang dapat dimodel menggunakan metodologi NLP kemudian ketrampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja.

NLP bisa digunakan ke berbagai macam bidang, tergantung outcome si user. Misal sekarang NLP digunakan untuk afektivitas komunikasi secara maksimal dan digunakan dalam bidang pendidikan seperti di Quantum Learning, dan bisa juga digunakan di bidang kesehatan, manajemen dan leadership. NLP masih bisa berkembang lebih jauh lagi di masa yang akan datang tergantung improve dari kebutuhan si user. Jadi jika ada yang menanyakan apa manfaat yang akan saya dapatkan dari NLP? Jawabannya, tergatung outcome yang ingin Anda dapatkan dari NLP ini.

NLP itu ibarat bahasa pemograman di komputer, jika kita tidak menguasai source code-nya kita akan kesulitan membaca dan menggunakannya. Jadi jika buku-buku NLP dibeli atau dibaca oleh orang yang belum menguasai source code NLP dari sumbernya yang tepat, orang tersebut akan kebingungan dengan isi buku tadi. Karena akan banyak kata-kata dan kalimat yang akan sulit dimengerti makna dan fungsinya.

What Is Neuro-Lingustic Programming?

  1. NLP is the art and science of personal excellence (Jossep O'connor).
  2. NLP adalah apa pun yang bisa menghadirkan kesuksesan (Robert Dilts).
  3. NLP adalah sebuah studi sistemik terhadap komunikasi antar manusia (Alix von Uhde).
  4. NLP adalah strategi belajar yang dipercepat (Accelerated Learning Strategy) untuk mendeteksi dan memanfaatkan pola-pola yang ada di dunia (John Grinder).
  5. NLP adalah sebuah sikap mental dan metodologi yang ada dibalik segenap tehnik yang efektif (Richard Bandler).
  6. NLP menawarkan sebuah model untuk mengenali kesempurnaan dan proses memunculkannya setiap saat (Bob G. Bodenhamer dan L. Michael Hall).
Ini tulisan singkat pertama saya di blog ini tentang NLP, dalam waktu dekat akan kita lanjutkan kembali dengan kelanjutannya mengenai NLP Presuppositions.

Menumbuhkan Ide Menjadi Konsep

Ide hanya wacana awal yang membutuhkan perangkat-perangkat pendukung tambahan untuk mampu bertumbuh menjadi sebuah model konsep yang kuat untuk diterapkan, jika tidak ide hanya kabut yang akan membuat pandangan kita semakin dalam akan semakin buram.

Ide membutuhkan referensi pengujian untuk memperjelas gagasan awal apakah gagasan dalam ide itu menguntungkan untuk diterapkan atau tidak atau malah menghacurkan yang lain. Sanggupkah kita memahami pergerakan ide itu kedepan akankah dia ke depan tumbuh dengan baik dan menguntungkan tujuan kita atau tidak, di sini kita membutuhkan referensi-referensi untuk menggalih sejarah masa lalu dan kemungkinan di masa depan.

Setelah kita yakin ide tersebut positif untuk masa sekarang dan untuk masa yang akan datang kita lanjutkan dengan meng-inkubasi ide kita terlebih dahulu. Biarkan ide itu tumbuh dulu sendiri sebelum kita perkenalkan kepada orang lain. Dalam masa inkubasi, ide akan mengembang dan memperjelas dirinya dengan sendirinya. Ide akan tampak lebih jelas bagi kita, karakternya akan semakin kentara. Kita jadi semakin yakin dengan ide tersebut akan bisa hidup di dunia nyata nantinya.

Membangun Keluasan Diri

Kebenaran menjadi begitu sempit ketika berada di mata para manusia yang emosional, hanya ada dua warna saja yang nampak dalam pandangan mereka. Kebenaran menjadi hal yang menakutkan ketika mereka mengutarakannya. Kebenaran menjadi membosankan ketika mereka membahasnya.

Ruang-ruang besar yang indah dan nyaman yang mampu memikat seluruh manusia tidak mampu mereka bangun lagi.


Jadilah kami yang memegang mimpi bahwa manusia mampu memahami keluasan  terhenti tidak tahu  harus berbagi mimpi dengan siapa lagi. Akhirnya Kebenaran yang suci kini telah diperkosa oleh para banci yang tak mengenal mimpi seperti kami.

Kita tunggu waktu ketika mereka lelah memandang diri sebagai pribadi yang amat suci. Kita tunggu waktu ketika mereka mulai belajar untuk memahami arti dari kata "manusia" itu sendiri.

Akhir Yang Menarik


Ketika ada sesuatu yang terjadi manusia seriang menganggapnya sebagai hal yang biasa saja dan tak ada yang menarik dari kejadian tersebut.

Bagiku sesuatu yang terjadi adalah urutan yang berkaitan dengan urutan-urutan yang lalu dan bisa menjadi kaitan untuk urutan yang akan datang.

Ada yang terjebak dalam urutan-urutan itu tanpa menyadarinya, ada yang memahami namun tak tahu harus melakukan apapun lalu mengalir saja bagai objek yang dibawa oleh arus sungai yang deras. Ada yang memahami lalu berusaha melihat pilihan dari pola-pola dalam urutan-urutan tersebut dan membuat pilihannya agar kakinya bisa melangkah dengan kesadaran atas pilihan-pilihan yang dia buat sendiri. 

Semua akhirnya adalah akhir yang kita alami. 

Mana Visi Hariannya ?

Seringnya kita melalui setiap hari kita dengan sangat sederhana. Tanpa memiliki visi yang jelas untuk setiap hari yang kita lalui. Sehing di akhir petang menjelang malam kita tak bisa merasakan hal yang berharga dari hari yang kita lalui. Semua seakan biasa saja setiap harinya sehingga terasa sama aja hari ini dan kemarin semua hilang tanpa bekas yang berharga dalam jiwa ini.

Aku juga seperti itu, makanya pada hari ini aku merasakan ada yang kurang tepat dengan cara kita mengahabiskana satuan hari yang dianugerahkan kepada kita.
Ingin mencoba untuk merenung fungsi dari Visi harian yang harus kita miliki disetiap harinya, Visi yang berirama dengan hari-hari di masa depan jika ALLAH masih menganugerahkan nikmat hari-hari itu pada kita.
Perenungan ini terasa penting menurutku. Agar satuan hari ini bisa mandiri dalam prosesnya, kemandirian yang memudahkan bersinergi dengan hari-hari baru nantinya.
Akhirnya, Apa Visiku hari ini ya?
“ingin melatih dan memahami apa itu rasa syukur”

Belajar itu Apa ?

Belajar itu apa ? Setiap hari kita diminta dibelajar, semenjak TK sampai dengan jadi Mahasiswa bahkan setelah kita menjadi Leader di masyarakat pun kita masih diminta terus belajar, dari mulai belajar dari buku sampai belajar dari pengalaman hidup.

Belajar itu Apa? Adakah tatacara dalam belajar ? Adakah buku panduan dalam proses belajar ? Adakah tehnik tertentu dalam belajar? 

Menjawab itu semua membutuhkan ruang konsentrasi yang sangat besar. 

Setelah bertahun-tahun mempelajari berbagai referensi dan pelatihan tentang pengembangan diri manusia, saya sekarang sampai pada titik memahami kata "Belajar" itu sebagai proses atau sistem yang sangat besar yang kompleks yang terus berkembang seiring berkembangnya kebutuhan manusia. 

Belajar adalah sistem "pertumbuhan" manusia, Proses penumbuhan hal-hal yang ada dalam wilayah pengaruh kita. Proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada disekitar kita. Belajar adalah meluaskan kemampuan memandang kita. Belajar adalah menguatkan otot-otot emosi kita agar mampu bertahan dalam kondisi yang akan berubah-ubah. Belajar adalah menjaga dan mengembangkan jaringan komunikasi positif kita dengan para teman dan manusia lain.

Belajar adalah menyentuh masalah dan merabanya lalu memahami bentuknya dan sifatnya lalu mencari jawaban untuk memposisikan masalah itu sebagai apa  dan difungsikan untuk apa bagi hidup kita, setelah fungsinya benar masalah itu tidak akan jadi masalah lagi malah akan jadi potensi baru bagi diri kita.

Belajar adalah mengembangkan posisi kita agar bisa berguna dan bermanfaat bagi dirikita dan bagi yang lainnya. 

Terkhir untuk merangkum semuanya, Belajar adalah proses memahami diri lalu mengembangkan diri kita, memperbaiki kekurangan, lalu melatih kemampuan skill mandiri kita dalam hidup lalu memahami dunia ini dan menyumbang potensi dan skill diri kita yang mampu kita beri.

Belajar adalah ruh kehidupan, tanpa jiwa pembelajar manusia akan membeku lalu menjadi batu yang tak akan mampu lagi menghirup udara dan juga tak akan mampu lagi melangkah maju. Akan terhenti dan "mati". 

Setelah jiwa pembelajar tumbuh mimpi-mimpi pun akan hadir.




Memulai Cinta

Yang tiba-tiba perasaannya berdebar-debar ketika menatapnya, menatap wajah gadis yang membuatnya terus terikat dengan memori indah itu, lalu mulailah keinganan untuk terus bertemu lagi dengannya. Rancangan-rancangan strategi pun mulai dirumuskan untuk menciptakan kesempatan baru untuk bertemu.

Setelah mulai dan sering bertemu mulailah masing-masing berusaha untuk menampilkan pesona yang dimilikinya. Mulailah pesona-pesona itu menjadi warna-warna indah yang sulit untuk dinamakan dengan kata-kata. Semua akan menjadi indah ketika saling bertemu dan bersapa karena mereka saling berusaha memacarkan pesona terbaik yang dimilikinya.

"Lalu kelanjutannya gimana?"

"Tarik napas dulu, siap2 lanjutin bacanya!"

Lalu setelah waktu berjalan dengan aroma wangi dan warna-warni pelangi yang membuat hati ini terus berpuisi tetap saja akan ada dinding yang menuntut kita berhenti dan membuat arah baru untuk langkah baru selanjutnya.

Langkah-langkah baru ini yang akan saya sebut sebagai sebuah "Status".

"Status" yang dibuat akan berbeda-beda tergantung diri mereka berdua karena "status" adalah kumpulan pilihan-pilihan ibarat warna yang bermacam-macam atau beragam.

Pilihan "status" yang dibuat biasanya berkisar antara pilihan-pilihan di bawah ini ;

a. Pacaran , pilihan ini adalah pilihan yang paling mudah dan sering dipilih oleh kebanyakan, terlebih bagi para pemula yang baru jatuh cinta semua dihubung-hubungkan dengan pacaran seakan hanya status ini yang ada dibumi ini untuk mereka bisa bersama.

b. Tetap sebagai kawan, lalu meski suka namun mereka membuat kesepakatan baru dari rasa kagum menjadi kawan. Pilihan ini biasanya dibuat karena mereka berdua masih ragu-ragu dengan masa depan jika mereka bersama, ini biasanya tipe dari para prediksionis yang akan memprediksi semuanya ketika masa depan masih belum jelas mereka akan mengamankan diri masing-masing agar tidak ada yang rugi.

c. Memendamnya lalu merancang langkah-langkah untuk menikahinya, ini tipe remaja yang sangat idealis dengan nilai-nilai suci yang dipegangnya. Dia akan menyembunyikan idenya lalu merancang cara agar bisa menamatkan studynya secepatnya dan merancang supaya memiliki penghasilan sebagi modal untuk mengeksekusi keinginannya untuk memiliki cita-citanya itu. (Keren....)

d. Melupakannya, ini tipe yang sangat rumit. Berusaha melupakan sesuatu yang disukainya karena ada sesuatu lain yang harus dia dahulukan, bisa jadi karena punya ambisi kuat kepada cita-cita lain dan bisa jadi juga karena takut akan sesuatu. Ini pilihan yang sangat rumit untuk dibaca.

e. Terakhir ada yang memilih untuk bermain-main saja tanpa keseriusan yang berarti, ini lawan dari pilihan pertama, jika pilihan pertama dilakukan oleh para pemula , pilihan ini dilakukan oleh para spesialis, (hahahaa,,,,,). Keseriusan yang mereka perlihatkan hanya kepalsuan, mereka telah menyusun agar ada alibi untuk mengakhirinya sewaktu-waktu. Mereka hanya menganggapnya semua hanya permainan yang bisa dihentikan kapanpun mereka mau.

Pilihan-pilihan yang dibuat oleh masing-masing kita adalah yang paling kita anggap sebagai pilihan terbaik bagi kita, lalu baru kita mempertimbangkan yang lainnya. Silakan dipilih Anda akan memilih yang mana? 

Narsisme dan Cinta

Ketika dua orang narsis bertemu mereka akan mudah untuk saling jatuh cinta, entah kenapa bisa terjadi semacam itu. Namun ketika dua orang logik bertemu mereka akan saling membaca satu sama lain, mencari kelemahan lawannya ataupun mencari keunggulan lawannya, semacam perang. 

Kita akan mudah untuk jatuh cinta ketika sedang narsis dan kita akan mudah menilai ketika sedang logik. 

Ada yang setiap harinya penuh dengan cinta dan bunga-bunga rindu terhadap seseorang namuan ada juga orang hidupnya penuh dengan prediksi-prediksi masa depan yang rumit dan penuh perubahan sehingga cinta baginya adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dijaga agar tetap ada. 

Bagi yang logik kata cinta penuh dengan warna-warna yang sangat sulit untuk didiefinisikan dengan tepat maka mereka sangat hati-hati untuk memutuskan mengungkapan cintanya kepada seseorang, mereka hati-hati karena menunggu akankah rasa cinta nya akan berubah ketika kondisi telah berubah. Mereka mencari ketepatan sebelum bersikap.

Bagi yang narsis mereka mudah mengeluarkan ungkapan cintanya karena mereka yakin mereka pantas mencintainya, pantas mendapatkan cinta itu dan pantas untuk dicintai.

Bagiku Narsisme dan Logic itu ada kemiripan meskipun kelihatannya berbeda.




Tersenyumlah Ketika Bicara

Sadarkah kita bahwa kita seringnya hanya menyukai hanya beberapa warna saja, lalu kita merasa muak dengan warna-warna yang lain. Sadarkah kita bahwa kita sering membela satu kelompok dengan mati-matian dengan logika emosi kekanak-kanakan, lalu kita membenci kelompok sebelahnya dengan emosi kekanak-kanakan juga. Sadarkah kita seringnya menganggap bahwa pandangan kita yang lebih luas sedangkan pandangan yang lain sempit tak bermakna di mata kita.

Aku sering melihat orang yang mengaku cinta kebebasan dan demokrasi namun sering menilai orang dengan emosinya, apakah kebebasan itu artinya kita bebas menilai orang sekehendak hati kita? Apakah kebebasan itu kita artikan kita bebas menari tanpa meperdulikan atau pura-pura tuli dengan irama musik yang ada?

Aku jadi malas menilai logika manusia, aku juga malas menilai logika sosial. Aku bukan seorang penilai atau juri. Aku bukan juri. Aku hanya seorang yang melintas di jalan ketika opera drama itu sedang mereka lakoni. Untuk apa aku menilai? Aku tak mau berhenti lama dalam kerumunan manusia yang sedang gaduh.

Mari kita melangkah dengan lebih cerdas, mari kita melangkah dengan lebih tenang. Emosi-emosi itu kita simpan saja untuk puisi nanti malam.

Mari kita lebih bijak dengan warna dan kebebasan, marilah kita mengeluarkan kata-kata indah meskipun suara bising mengganggu telinga ini.

Aku mecoba masuk ke ruang yang tak kusenangi secara naluri, untuk apa? apakah untuk mencari kebobrokannya? Bukan! Tapi ingin memahaminya, ingin mengatahui irama musik di ruangan itu, ingin mengetahui bagaimana mereka menjaga ruangnya. Aku hanya ingin tahu saja, bukan untuk menghina atau menilai.

Mari menulis ulang logika kita yang selama ini kita anggap selalu benar. Logika kita hanya ruang interval untuk sebuah kemungkinan, bisa kemungkinan salah yang muncul dan bisa jadi pula kemungkinan yang benar yang muncul. Jadi Tersenyumlah Ketika Bicara.

Sekolah Unggulan Marga Satwa

Pada suatu hari para hewan berkumpul dan membicarakan sebuah hal penting dalam mengahadapi sebuah dunia baru. Rapat yang dihadiri oleh hampir semua jenis hewan itu menelurkan sebuah keputusan: mendirikan sekolah!

Sebuah sekolah? Ya! Sebuah sekolah.

Para pengurusnya mengadakan rapat untuk membuat kurikulum. Akhirnya disepakati bahwa kurikulumnya mencakup kegiatan: berlari, memanjat, berenang, dan terbang. Kurikulum ini diberlakukan untuk semua jenis hewan. Artinya semua hewan harus mengambil semua mata pelajaran ini.

Angsa dan hewan sejenis yang pandai berenang (bahkan mungkin lebih pandai ketimbang instrukturnya) lulus dengan angka minimum dalam mata pelajaran terbang dan sangat buruk dalam mata pelajaran berlari. Karena hewan-hewan ini lamban dalam hal berlari, mereka harus tetap tinggal di sekolah seusai jam pelajaran untuk mendapatkan latihan tambahan. Mereka pun harus rela melepaskan mata pelajaran berenang untuk belajar berlari. Ini berlangsung terus-menerus. Bahkan kaki-kaki mereka yang berselaput menjadi robek-robek karenanya, namun nilai yang mereka peroleh hanya rata-rata. Sesungguhnya nilai yang cuma rata-rata ini ditoleransi oleh sekolah tersebut. Tak ada yang merisaukannya, kecuali angsa-angsa dan hewan-hewan sejenisnya itu sendiri.

Kelinci, kancil, dan harimau merajai kelas berlari, bahkwan beberapa dari mereka menjadi juara kelas. Namun mereka dilanda stres dan mengalami depresi mental karena terlampau banyak tugas perbaikan (remedial) dalam mata pelajaran berenang.

Hewan sejenis tupai yang hebat dalam memanjat, membuat kehebohan di kelas terbang karena gurunya frustasi menyuruh mereka mengawali dari tanah ke atas. Tentu saja, karena hewan-hewan itu biasa melakukannya terbalik, yakni dari puncak pohon ke bawah. Tupai dan sebangsanya ini juga terkena sindrom keseleo tangan serta kakinya akibat upayanya terlalu ekstrem. Gara-gara cedera itu, yang mengenaskan, mereka malah hanya mendapatkan nilai 70 untuk mata pelajaran memanjat yang menjadi keahlian mereka dan 50 untuk pelajaran berlari.

Sejenis burung elang masuk kategori murid-murid bandel karena sulit didisiplinkan. Untuk mata pelajaran memanjar, mereka rata-rata mengungguli hewan lain untuk sampai puncak pohon, namun mereka keras kepala minta menggunakan cara mereka sendiri untuk mencapainya. Di pelajaran berenang mereka jeblok.

Ketika wisuda kelulusan, sejenis cicak terbang yang agak cacat mampu terbang dengan baik sekali, sedikit berlari, memanjat maupun berenang. Mereka meraih angka tertinggi secara keseluruhan dan bahkan satu di antara mereka didaulatkan untuk memberikan sepatah kata mewakili teman-teman seangkatannya.

Hewan sebangsa musang akhirnya memutuskan keluar dari sekolah. Mereka tidak mau membayar uang sekolah secara penuh karena pengelola sekolah tidak mencantumkan mata pelajaran menggali lubang dalam kurikulumnya. Keluarga musang itu lalu mengirimkan anak-anaknya untuk homeschooling ke keluraga anjing di padang rumput. Meraka kemudian bersama-sama dengan keluarga kelinci, marmut, tikus mondok, serta kucing, untuk mendirikan sekolah sendiri. Akhirnya sekolah swasta ini menjadi sekolah yang amat sukses.

(Dari buku RH Wiwoho yang berjudul: Ketika Maju Salah Mundurpun Salah)

Berbagi Cerita


Cerita. Hidup ini selalu penuh dengan cerita. Namun seringkali kita tidak mau bercerita, ataupun jika kita suka bercerita seringkali kita memilih menceritakan hal-hal negatif yang telah kita alami. Jarang kita melihat ada yang begitu bersemangat menceritakan hal-hal yang baik dan menyenangkan.

Jikapun ada yang menceritakan hal-hal baik tapi tidak menyenangkan karena dia menceritakannya hanya untuk kepuasan dirinya sendiri atau untuk memamerkan dirinya saja.

Cerita hidup yang indah akan menjadi lebih indah jika kita membagikan cerita itu untuk yang lain.

Berbagi bukan memamerkan.

Memutuskan untuk Menjawab

Terlalu sering kita mengulang "kesalahan" yang sama, seperti lupa bahwa itu kesalahan yang harus kita tinggalkan.

Kesalahan yang terulang dan berulang dalam waktu lama kan menjadi kebiasaan yang begitu ringan kita lakukan, seakan kesalahan itu adalah napas yang berhebus dengan ringan memasuki seluruh jiwa kita tanpa adalagi keengganan dari hati dan akal ini.

Membuangnya ibarat membuang sepotong tangan kita sendiri, kita enggan melepaskan secara naluri karena kita selama ini telah menikmatinya secara menyenangkan meskipun kita tahu itu salah. Kesalahan telah berubah menjadi hal yang lumrah karena ada ganjaran kenikmatan yang kita dapatkan.

Itu mungkin gambaran yang bisa saya gambarkan, selanjutnya adakah peluang untuk memotong habis kebiasaan melakukan sebuah kesalahan yang terus menerus semacam itu?

Adakah solusi yang tepat ?

Sulit menjawab, meskipun demikian kita harus mencoba menjawab, kalaupun jawaban kita gagal kita harus berusaha terus untuk menyempurnakan jawaban kita.

Apakah saya punya jawabannya ?

Saya berusaha mencari jawabannya semenjak lama, sehingga barusan saya menganalisa sebuah konsep tentang "Habit" atau dalam bahasa kita disebut dengan "Kebiasaan". Setelah menganalisa lebih dari 4 jam dengan membandingkan dengan referensi - referensi yang saya miliki di lemari perpustakaan pribadi saya, sampai pada kesimpulan sementara ; "Kebiasaan bisa diubah dengan cara membentuk kebiasaan yang baru sama seperti awal terbentuknya kebiasaan yang buruk tersebut, kebiasaan baik juga terbentuk dengan sistem yang sama".

Konsepnya akan saya bahas insyaALLAH di kesempatan selanjutnya, sudah jam setengah 12 malam ketika saya mengetik ini, otak ini mulai minta kembali ke alam mimpinya untuk bermain dan beristirahat. Semoga umur kita semua selalu berkah, dan semoga kebiasaan buruk yang masih melekat di jiwa kita ini mudah untuk berganti dengan kebiasaan baik yang penuh berkah, insyaALLAH. Amiin.

Mengeksplorasi Dengan Pertanyaan

Sebenarnya kita harus terlebih dahulu belajar tentang "Bagaimana cara membuat pertanyaan yang benar dan baik " terlebih dahulu sebelum belajar tentang "Bagaimana menjawab pertanyaan dengan baik". Kita sering menganggap kemampuang menjawab pertanyaan lebih penting daripada kemampuan membuat pertanyaan.

Sebagai contoh ; seorang guru yang fungsi mendidik lebih senang memberi pertanyaan kepada para murid ketimbang memberi banyak waktu untuk menumbuhkan kemampuan bagi sang murid untuk berani membuat pertanyaan-pertanyaan yang diangga oleh sang murid penting bagi dirinya, lalu guru dengan sabar menjawab pertanyaan para murid dengan baik dan berisi, sehingga bukan murid yang disuruh selalu menjawab pertanyaan dari sang guru di setiap harinya. 

Para anak-anak yang baru berumur sekitar 3 tahun secara naluriah dia mulai belajar membuat pertanyaan dan bertanya kepada orang tuanya dan orang lain yang ditemuinya tentang hal-hal yang menarik bagi dirinya, naluri itu tumbuh secara alami pada mereka. Sungguh menakjubkan. Namun seringnya kita menganggap hal tersebut sebagai hal yang merepotkan bagi kita karena harus selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang kita anggap tidak penting, namun kita lupa, itu penting bagi mereka.

Sering kali kita mematikan kebiasaan "bertanya" sang anak, padahal kita seharusnya mengasah kebiasaan itu semenjak anak-anak, harus kita ajarkan bagaimana bertanya yang baik dan benar secara alami. Harus kita kembangkan seiring usia mereka dan kita bertambah. Harus kita tingkatkan fungsinya.

Mari dari sekarang kita belajar "Bagaimana Cara Membuat Pertanyaan Yang Baik". 

Skil ini akan sangat bermanfaat untuk mengeksplorasi ilmu dan informasi, mengasah fungsi logika bekerja dan membuka kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, lalu kita bisa melihat lebih jauh dan luas dengan stimulus dari pertanyaan yang baik itu. Mengeksplorasi dengan pertanyaan.

Kita Semua Memilikinya

Banyak yang protes, banyak yang tidak bersyukur. "Dia kaya semenjak lahir, aku miskin meskipun sudah bekeja keras." ."Dia enak ganteng bisa mudah bergaul, nah aku dibilang sedang-sedang saja banyak kawan yang protes. ". "Dia memang sangat beruntung, sudah cerdas, kaya, ganteng, dan bisa meneruskan pendidikan ke luar negeri, sungguh beruntung dia. Aku ? ". Banyak kalimat-kalimat semacam itu yang sering kita dengar, bahkan kadang kita pun sering mengeluarkan kalimat-kalimat tersebut tanpa sengaja.

Salahkah kalimat-kalimat di atas ? saya sangat malas membahas tentang salah dan benar, karena banyak yang akan tidak setuju tentang jawaban salah dan benar, semua punya beribu-ribu alasan yang akan dia ungkapan untuk membenarkan kondisi yang sedang terjadi pada dirinya. Kita akan coba melihat sisi yang jarang dilihat, jarang dirunungi, jarang disyukuri, jarang digunakan dengan maksimal.

Tidak semua orang diberikan kecerdasan yang sama, tidak semua orang diberikan kekayaan yang sama, tidak semua wajah diberikan kecantikan dan kegantengan yang sama, dan banyak hal lain kita tidak memilikinya secara ideal.

Namun sebenarnya ada sesuatu yang semua orang memilikinya, hal dasar yang pasti kita memilikinya semua. Aset utama itu kita semua memilikinya. Aset utama itu adalah WAKTU.

Waktu, semua kita memilikinya tidak ada yang bisa mencuri waktu kita dan kita pun tidak bisa menggangu waktu yang dimiliki oleh orang lain. Waktu adalah ruang gerak dan ekspresi yang diberikan kepada setiap yang hidup. Memahami waktu, memahami bagaimana menggunakannya, memahami apa manfaat yang akan kita terima dari pemanfaatannya.

Jarang kita menjadikan waktu sebagai aset yang berharga.